Hatiku ternyata bukanlah seekor burung bebas
Yang bisa hinggap kemana pun ia suka
Hatiku ternyata menyukai sangkar
Dan untuk sangat sukar tuk keluar
Ingin rasanya bagai layang putus dari benang
Terbang kemana saja angin membawanya
Tapi sayang ia benangnya cukup kuat tuk diputuskan
Sehingga sang layang hanya bisa terbang sekehendak pemiliknya
Mungkin hati ini bagaikan angin
Yang membawa bau kemana saja tanpa mengubahnya
Sempat juga bau ini tercampur bau lainnya
Tapi tetap saja masih bisa dicari bau aslinya
Ada beribu kata yang bisa dihasilkan oleh pecinta
Pecinta yang telah menjadi pujangga
Tapi tiada satu kata pun yang diucapkan untuk sang cinta
Tiada peduli apa isi hati sang buah hati
Terkadang tabir itu ingin kubuka
Namun naluri ini selalu melarangnya
Tapi jika sang buah hati membaca ini
Mungkin dia kan tau tanpa harus ada suatu bukti
Tapi jika prasasti ternyata berganti
Entahlah apa yang kan terjadi nanti
Karena kita hidup di saat ini
Dan belum tentu besok kita bisa membuka mata kembali
Ingin hati selalu bisa menopang lemahmu
Mengurangi bebanmu, dan selalu melihat senyummu
Tapi hati ini takut itu bukan untukku
Dan Allah marah akan itu
Hari ini saat ini, yang kutulis ini adalah mimpi
Mimpi yang akan segera terhapus saat kubuka mata nanti
Entah apa kata masa depan nanti
Ini adalah saat ini, hatiku yang masih tetap terpatri
Kuingin hati ini segera lepas
Namun semakin dipaksa kan semakin sulit babasnya
Sekarang memang sangkar sudah tidak terbuat dari besi
Tapi tetap saja sang penghuni tak mau keluar darinya
Suatu ketika saat semua telah terbuka
Maka itu adalah kehendakNya
Hanya Dia Maha Tahu saat itu
Dan hati ini pun hanya berdoa yang terbaik selalu